SAHABAT
UNTUK SAHABAT
By
:Chrismon
Dwi Indah Kartikasari
Terbesit dalam hati yang sedari dulu ia rasakan,
namun tak ada keberanian untuk mengungkapkan, “Apa yang terjadi dengan ku,
kenapa rasanya berbeda?” Dan ketika dia
memberanikan diri untuk mengatakan pada seorang sahabatnya yang bernama Caca, dia mendapat satu
jawaban, “Mungkin kamu sakit?”
Semenjak
kejadian munculah pertanyaan-pertanyaan kecil yang ditumpuk oleh bocah kecil
itu. Dan belum ada satupun pertanyaan yang terjawab.
“Kring-kring-kring....
Tika, berangkat yuk !” Teriak Agus. “Iya, bentar gus, Tika berangkat dulu ya
bu, assalamualaikum”, sambil berlari memegangi dahinya.
“Waalaikumsalam,
hati-hati sayang. Jangan lupa obatnya diminum” sembari melambaikan tangan dan meletakkan
sapu yang digenggam.
Dikayuhlah
sepeda oleh Agus dengan penuh semangat. “Eh, tugas matematika dari Pak Marwan
udah kamu kerjakan?” tanya Tika ketus. “Aku tadi malam mencoba mengerjakan
sendiri, tapi tak satupun yang terpecahkan.” Jawab Agus sambil mengayuh sepeda
dan menggaruk kepala. “Pantesan aku tadi malem nungguin kamu, nggak
nongol-nongol.” Sahutnya. “Maaf deh, tapi kayaknya emang bener aku nggak bisa
hidup tanpa kamu deh Tik.” Ucap Agus dengan cengengesnya. “Maksud loh ? udah
deh nggak usah nambahin PR, bikin bingung aja.” Jawab Tika dengan menutupi rasa
penasarannya.
Sesampainya
disekolah Tika dan Agus bergegas menuju kelasnya masing-masing. Tak lama
kemudian “Saatnya jam pertama dimulai, its time to begin the first leasson.”
“Tik,
PR mu udah selesai?” tanya Eka. “Udah, tapi kali ini aku ngerjain sendiri.”
Jawabnya. “Emang udah biasa kamu ngerjain sendiri kan?” sahut Eka. “Iya, tapi
biasanya setiap ada PR matematika Agus selalu kerumah ku, ngerjain bareng gitu.”
“Aku
lupa, yang lain juga banyak yang belum. Aku nyontek punyamu ya, kali ini aja,
aku mohon.” Kata Eka sambil tersenyum nggak jelas. “Halah, bukankah setiap pagi
kamu selalu mengucapkan kata-kata itu?” tegas Tika. “Hehe... Tika kan baik”
sambil memandang melas wajah sahabat.
Tertuanglah
kata demi kata, angka demi angka dalam sebuah lautan putih yang merupakan
goresan contekan, dalam buku Eka. Ya,
persislah jaawaban mereka berdua bagai jerapah bercermin. Direbutlah jawaban
mereka oleh seorang teman kelasnya. Tak lama kemudian “krekk...” suara pintu
mulai terbuka.
“Selamat pagi
anak-anak.”
“Pagi pak.”
“Ada pekerjaan rumah?”
“Ada pak...” jawab Risa dengan lantang
“O iya, Risa. Bisa dikerjakan kedepan soal nomer
satu saja.”
“Siap pak..”
9x + 8y
= 144
9x + 9y
= 153
Y = 9
9x
+ 8y = 144
9x
+ 8.9 = 144
9x
+ 72 = 144
9x
= 144 – 72
9x
= 72
x = 8
Terpapar
jelas pekerjaan Risa di papan tulis, ketika sudah selesai dengan santainya Risa
kembali duduk di bangkunya. Dan kini Pak Marwan meneliti jawaban yang ditulis
Risa.
“Risa,
dapatnya x = 8 itu darimana ? bisa dijelaskan ke teman-temannya !” tanya pak
guru. “A..a..a.. anu pak...” jawab Risa gugup dan wajahnya mulai mimikri.
“Kamu nyontek ke siapa?”
“E..e.. Sandra pak” dengan menunding bangku Sandra.
“Sandra, tolong jelaskan pada teman-temanmu !”
“Saya juga nyontek pak, nyontek Eka” jawab Sandra
dengan menunding wajah Eka.
“Apa-apaan kalian ini, Eka nyontek siapa lagi?”
“Ampun
pak, saya nulis ulang jawabannya Tika.” Sahut Eka menunduk malu.
Nampaklah
wajah geram dari tatapan Pak Marwan, “Bapak tidak pernah melarang kalian untuk
bekerja sama, tapi telitilah apa yang kalian tulis itu. Setidaknya kalian
mengerti, paling tidak kalian bisa tanya pada prosesornya. Kalian ini sudah
kelas 8 SMP, bukan anak SD lagi. Dan kamu Tika, dapat jawaban dari mana kamu?”
Tika menjawab dengan lantang dan tanpa sedikitpun keraguan “Saya mengerjakan
sendiri, pak. Mungkin dari bapak mau membenarkan jawaban yang salah.” “Jawaban ini sudah benar, bapak minta kalian lebih
rajin lagi.” Tambah pak guru.
“Baik
pak.” Jawab mereka serempak.
Seruan
bel istirahat mulai terdengar, merekapun bergegas menuju sasaran utama
(kantin). Kecuali Tika dan Eka yang berdiam diri, merasakan sapuan angin yang
membawa terbang leraian-leraian kertas yang ia pandangi sejak tadi. Tiba-tiba
Tika membuka mulutnya dan mengungkapkan isi hatinya.
“Eka, kenapa akhir-akhir ini aku merasa aneh ya?”
“Aneh kenapa?”
“Kalau melihat Agus itu rasanya lain, tidak seperti
biasanya.”
“Wah.. mungkin kamu mulai menyukainya.”
“Tidak.. itu tidak boleh terjadi, Agus itu
sahababatku dari kecil, mana mungkin aku memendam rasa untuknya.”
“Yang
dapat menjawab itu hanya dirimu sendiri, hati itu demokratis. Dari diri, oleh
diri, dan untuk diri.”
Tika
mencoba menelaah kata-kata yang dilontarkan Eka, sedikit demi sedikit ia mulai
menemukan jawaban dari pertanyaan yang ia buat sendiri. Sepulang sekolah ia
langsung bertanya pada cermin, “Apakah yang ia rasakan ini cinta? Atau mungkin
hanya sebatas sayang kepada seorang sahabat.” Dia temukan jawabannya melalui
sinar matanya yang nampak dari cermin dihadapannya.
Mungkin
mulut lihai berbohong, tapi mata tak akan pernah bisa. Empat tahun yang lalu
dia pernah merasakan hal yang sama, namun ia hiraukan. Dia juga pernah
bercerita pada sahabatnya yang bernama Caca. Namun respon Caca dan Eka berbeda
99%, ia hanya bisa memilah dan menimbang dengan hatinya sendiri. Dan setelah
sekian lama dia mencari-cari jawaban dan akhirnya kini ia menemukan jawabannya,
“Ya.. aku suka sama Agus sahabatku sendiri. Dialah yang dinamakan cinta
pertamaku, mungkin orang bilang cinta monyet, tapi menurutku ini cinta
pertamaku dan kalo perlu aku menyebut ini cinta terlarang.”
Sejak ia mengungkapkan perasaannya itu (pada
selembar kertas yang lalu ia bakar), bertambahlah semangat belajar bocah imut
itu. Mungkin ia berfikir dengan semangat belajar dan mempertahankan, bahkan
meningkatkan prestasinya ia akan mendapat nilai plus dimata Agus.
Satu
tahun berjalan hubungan mereka semakin lengket. Seperti biasa setiap malem
kamis Agus selalu datang kerumah Tika, dugaan yang tepat, mereka selalu bekerja
kelompok soal matematika. Agus memang tidak pandai namun ia sangatlah ulet
dalam berusaha. Hingga tiba pada suatu malam, berbeda dari biasanya, kali ini
malam Minggu Agus mendatangi rumah Tika.
“Assalamu’alaikum, Tika.” “Wa’alaikumsalam, eh
Agus, tumben malem minggu kemari, rapi amat pakaianmu kaya orang mau
kondangan.” Jawab ibu Tika. “Hehe.. iya tante, Tika nya ada?” Jawab Agus sambil
tersenyum malu. Dengan mengenakan pakaian daster warna pink tiba-tiba Tika
menerobos keluar. “Amboi.... baru kali ini aku melihatmu pakai baju feminim.”
Ucap Agus sambil menahan tawa. “Biarin, kann nggak ada yang liat.” Sahutnya
ketus. “Eh ngomong-ngomong kamu mau kemana, rapi amat. Apa yang kamu bawa itu?”
tambahnya.
Suasana
hening sejenak, mungkin Agus bingung untuk memulai pembicaraannya. “Tik, aku
mau ngungkapin perasaanku.”
“Perasaan
apa? Emang ada yang kamu umpetin ?” jawab Tika membuat lelucon.
“Aku
serius Tik, sudah lama aku memendam perasaan ini, dan mungkin malam ini adalah
malam yang pas untuk ku ungkapkan.”
Tercenganglah
wajah Tika, pikirannya melayang kemana-mana. Sipu malu yang nampak pada
wajahnya. Ia pun berpikir dan berbisik dalam hati, “Kalau seperti ini? Dia juga
mencintaikku? Oh tuhan, inikah jawaban atas do’a ku selama ini?”
Suasana
menjadi hening, Tika tak mampu lagi berkata. Agus mencium setangkai mawar merah
yang ia genggam dari tadi. “Bunga ini untuk orang yang aku cinta, dan malam ini
akan menjadi saksi cintaku padanya.”
Tika
mengerutkan dahinya, “Padanya? Siapa yang dari tadi kamu maksud ?”
“Caca.”
Jawab Agus dengan tegas.
Rontoklah
sudah semua angannya, hampir saja pipinya terbasahi oleh laut yang hampir
tsunami itu. Namun ia menahan jangan sampai Agus tahu kalau dia menangis.
“Aku
selalu mendukung mu kawan, kalau memang kamu sayang pada Caca yang juga sahabat
baikku itu, maka ungkapkanlah perasaanmu itu. Aku do’akan yang terbaik untuk
kalian.” Ucap Tika sembari menggenggam erat tangan Agus.
“Terima
kasih ya Tika, tujuanku mampir sini tadi Cuma mau minta do’a darimu.”
Bergegaslah
ia menuju tempat yang telah ia persiapkan dari tadi. Banjirlah wajah imut Tika
dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan. Belum sampai pikirnya, ternyata
sakit hati itu tak seindah jatuh cinta.
Esoknya
dia berangkat bersama Eka, tidak seperti biasa. “Tumben nggak berangkat bareng
Agus.” Tanya Eka setengah mengejek. Tak satu katapun yang keluar dari mulut
Tika. Sesampainya disekokah Tika langsung menuju kelas, dan Eka masih nongkrong
di taman sekolah, dengan tatapan penasaran, nampaklah dari kejauhan dua orang
berjalan beriringan. Eka langsung menghampiri Tika, “Sudahlah Tik, ingatlah
kebersamaan kalian dulu, mungkin dengan begini bisa ditarik kesimpulan bahwa
sahabat itu hanya untuk sahabat, bukan yang lain.” Ucap Eka sambil mengusap
kepala Tika. “Mungkin kamu benar sobat, aku memang tidak bisa mendapatkan
cintanya, tapi aku tetap akan mencintainya, dan aku akan tetap menjadi sahabat
yang ia inginkan.” Ucap Tika sambil mengusap air matanya.
Caca
yang merupakan sahabatnya dalam organisasi, akhir-akhir ini sering curhat
tentang Agus. Dan Agus juga sering menceritakan hubungannya denga Caca kepada
Tika. Bagaimana dengan perasaannya sendiri?
“Ting (sebutan akrab Tika dalam lingkup organisasi),
apa aku benar-benar kejam ya?” tanya Caca
“Kejam? Emang kamu ngapain sih?”
“Aku tau kalu sebenernya kamu itu suka sama Agus.”
“Kamu itu ngomong apa Ca, aku ini sahabatnya lagian
Agus juga udah jadi pacar kamu kan.”
“Aku ini sahabatmu dari kecil Tik, jadi aku tau
betul tentang kamu dan sifat-sifatmu, lagian kamu dulu juga pernah bilang ke
aku.”
“Udahlah
Ca kamu ini ngomong apaan sih, mending kita kerjain dulu ni proposalnya.”
Lima
bulan berlalu, namun rasa dan kebiasaan Tika sama sekali tidak ada perubahan.
Kabar baik, Agus kini tak lagi dengan Caca, penantian yang tidak sia-sia untuk
Tika. Seharusnya dia mempergunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan
Agus. Namun tak sesuai dugaan. Tika lebih memilih untuk menunggu beberapa tahun
lagi, dan sekarang ia memilih untuk menjalani seperti biasanya. Namun bukan
berarti Tika melupakan cinta pertamanya itu.
“Kring-kring-kring....
Tika, berangkat yuk !” Teriak Agus. “Iya, bentar. Tika berangkat dulu ya bu,
assalamualaikum”, berlari
tergopoh-gopoh.
“Waalaikumsalam,
hati-hati nak.” sembari melambaikan tangan.
Seperti
biasa, dikayuhlah sepeda oleh Agus dengan penuh semangat. Dan begitupun
seterusnya hingga detik-detik wisuda. Nilai UN Tika cukup bagus, dia menjadi
peringkat 3 tingkat sekolahnya. Tapi tetap peringkat satu tingkat kelas.
Hubungan
mereka terpisahkan oleh jarak, Agus memilih bersekolah ke luar kota. Namun rasa
sayang Tika tetap saja seperti dulu.
“Hati-hati
ya sobat, walaupun jarak kita jauh, namun bukan alasan kita untuk lost contact
satu sama lain, bukan?” Ucap Tika sambil memeluk Agus.
“Jaga
diri baik-baik, sekolah yang bener, jangan lupakan aku sahabatku.”
Tak
pernah walau sekejap Tika melupakan hari-harinya bersama Agus, ia selalu
menanti waktu untuk pengungkapan rasa sayang Agus kepadanya. Namun mimpi.
Penantian sedari kelas 4 SD itu berbalas semu. Tak pernah ia berniat untuk
mengungkapkan.
“Tuhan...
inikah jawaban yang selama ini kau sembunyikan dariku. Dan kini baru aku
sadari, penantian, kesabaran, persahabatan. Benar kata Eka dulu bahwa sahabat
itu hanya untuk sahabat, bukan yang lain.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar