Jumat, 06 Maret 2015

Sahabat Untuk Sahabat


SAHABAT UNTUK SAHABAT
                                                        By :Chrismon Dwi Indah Kartikasari

Terbesit dalam hati yang sedari dulu ia rasakan, namun tak ada keberanian untuk mengungkapkan, “Apa yang terjadi dengan ku, kenapa rasanya berbeda?”  Dan ketika dia memberanikan diri untuk mengatakan pada seorang sahabatnya  yang bernama Caca, dia mendapat satu jawaban,  “Mungkin  kamu sakit?”
Semenjak kejadian munculah pertanyaan-pertanyaan kecil yang ditumpuk oleh bocah kecil itu. Dan belum ada satupun pertanyaan yang terjawab.
“Kring-kring-kring.... Tika, berangkat yuk !” Teriak Agus. “Iya, bentar gus, Tika berangkat dulu ya bu, assalamualaikum”, sambil berlari memegangi dahinya.
“Waalaikumsalam, hati-hati sayang. Jangan lupa obatnya diminum” sembari melambaikan tangan dan meletakkan sapu yang digenggam.
Dikayuhlah sepeda oleh Agus dengan penuh semangat. “Eh, tugas matematika dari Pak Marwan udah kamu kerjakan?” tanya Tika ketus. “Aku tadi malam mencoba mengerjakan sendiri, tapi tak satupun yang terpecahkan.” Jawab Agus sambil mengayuh sepeda dan menggaruk kepala. “Pantesan aku tadi malem nungguin kamu, nggak nongol-nongol.” Sahutnya. “Maaf deh, tapi kayaknya emang bener aku nggak bisa hidup tanpa kamu deh Tik.” Ucap Agus dengan cengengesnya. “Maksud loh ? udah deh nggak usah nambahin PR, bikin bingung aja.” Jawab Tika dengan menutupi rasa penasarannya.
Sesampainya disekolah Tika dan Agus bergegas menuju kelasnya masing-masing. Tak lama kemudian “Saatnya jam pertama dimulai, its time to begin the first leasson.”
“Tik, PR mu udah selesai?” tanya Eka. “Udah, tapi kali ini aku ngerjain sendiri.” Jawabnya. “Emang udah biasa kamu ngerjain sendiri kan?” sahut Eka. “Iya, tapi biasanya setiap ada PR matematika Agus selalu kerumah ku, ngerjain bareng gitu.”
“Aku lupa, yang lain juga banyak yang belum. Aku nyontek punyamu ya, kali ini aja, aku mohon.” Kata Eka sambil tersenyum nggak jelas. “Halah, bukankah setiap pagi kamu selalu mengucapkan kata-kata itu?” tegas Tika. “Hehe... Tika kan baik” sambil memandang melas wajah sahabat.
Tertuanglah kata demi kata, angka demi angka dalam sebuah lautan putih yang merupakan goresan  contekan, dalam buku Eka. Ya, persislah jaawaban mereka berdua bagai jerapah bercermin. Direbutlah jawaban mereka oleh seorang teman kelasnya. Tak lama kemudian “krekk...” suara pintu mulai terbuka.
 “Selamat pagi anak-anak.”
“Pagi pak.”
“Ada pekerjaan rumah?”
“Ada pak...” jawab Risa dengan lantang
“O iya, Risa. Bisa dikerjakan kedepan soal nomer satu saja.”
“Siap pak..”
9x + 8y = 144
9x + 9y = 153
            -y = -9
              Y = 9
9x + 8y = 144
9x + 8.9 = 144
9x + 72 = 144
9x = 144 – 72
9x = 72   
  x = 8
Terpapar jelas pekerjaan Risa di papan tulis, ketika sudah selesai dengan santainya Risa kembali duduk di bangkunya. Dan kini Pak Marwan meneliti jawaban yang ditulis Risa.
“Risa, dapatnya x = 8 itu darimana ? bisa dijelaskan ke teman-temannya !” tanya pak guru. “A..a..a.. anu pak...” jawab Risa gugup dan wajahnya mulai mimikri.
“Kamu nyontek ke siapa?”
“E..e.. Sandra pak” dengan menunding bangku Sandra.
“Sandra, tolong jelaskan pada teman-temanmu !”
“Saya juga nyontek pak, nyontek Eka” jawab Sandra dengan menunding wajah Eka.
“Apa-apaan kalian ini, Eka nyontek siapa lagi?”
“Ampun pak, saya nulis ulang jawabannya Tika.” Sahut Eka menunduk malu.
Nampaklah wajah geram dari tatapan Pak Marwan, “Bapak tidak pernah melarang kalian untuk bekerja sama, tapi telitilah apa yang kalian tulis itu. Setidaknya kalian mengerti, paling tidak kalian bisa tanya pada prosesornya. Kalian ini sudah kelas 8 SMP, bukan anak SD lagi. Dan kamu Tika, dapat jawaban dari mana kamu?” Tika menjawab dengan lantang dan tanpa sedikitpun keraguan “Saya mengerjakan sendiri, pak. Mungkin dari bapak mau membenarkan jawaban yang salah.”  “Jawaban ini sudah benar, bapak minta kalian lebih rajin lagi.” Tambah pak guru.
“Baik pak.” Jawab mereka serempak.
Seruan bel istirahat mulai terdengar, merekapun bergegas menuju sasaran utama (kantin). Kecuali Tika dan Eka yang berdiam diri, merasakan sapuan angin yang membawa terbang leraian-leraian kertas yang ia pandangi sejak tadi. Tiba-tiba Tika membuka mulutnya dan mengungkapkan isi hatinya.
“Eka, kenapa akhir-akhir ini aku merasa aneh ya?”
“Aneh kenapa?”
“Kalau melihat Agus itu rasanya lain, tidak seperti biasanya.”
“Wah.. mungkin kamu mulai menyukainya.”
“Tidak.. itu tidak boleh terjadi, Agus itu sahababatku dari kecil, mana mungkin aku memendam rasa untuknya.”
“Yang dapat menjawab itu hanya dirimu sendiri, hati itu demokratis. Dari diri, oleh diri, dan untuk diri.”
Tika mencoba menelaah kata-kata yang dilontarkan Eka, sedikit demi sedikit ia mulai menemukan jawaban dari pertanyaan yang ia buat sendiri. Sepulang sekolah ia langsung bertanya pada cermin, “Apakah yang ia rasakan ini cinta? Atau mungkin hanya sebatas sayang kepada seorang sahabat.” Dia temukan jawabannya melalui sinar matanya yang nampak dari cermin dihadapannya.
Mungkin mulut lihai berbohong, tapi mata tak akan pernah bisa. Empat tahun yang lalu dia pernah merasakan hal yang sama, namun ia hiraukan. Dia juga pernah bercerita pada sahabatnya yang bernama Caca. Namun respon Caca dan Eka berbeda 99%, ia hanya bisa memilah dan menimbang dengan hatinya sendiri. Dan setelah sekian lama dia mencari-cari jawaban dan akhirnya kini ia menemukan jawabannya, “Ya.. aku suka sama Agus sahabatku sendiri. Dialah yang dinamakan cinta pertamaku, mungkin orang bilang cinta monyet, tapi menurutku ini cinta pertamaku dan kalo perlu aku menyebut ini cinta terlarang.”
 Sejak ia mengungkapkan perasaannya itu (pada selembar kertas yang lalu ia bakar), bertambahlah semangat belajar bocah imut itu. Mungkin ia berfikir dengan semangat belajar dan mempertahankan, bahkan meningkatkan prestasinya ia akan mendapat nilai plus dimata Agus.
Satu tahun berjalan hubungan mereka semakin lengket. Seperti biasa setiap malem kamis Agus selalu datang kerumah Tika, dugaan yang tepat, mereka selalu bekerja kelompok soal matematika. Agus memang tidak pandai namun ia sangatlah ulet dalam berusaha. Hingga tiba pada suatu malam, berbeda dari biasanya, kali ini malam Minggu Agus mendatangi rumah Tika.
 “Assalamu’alaikum, Tika.” “Wa’alaikumsalam, eh Agus, tumben malem minggu kemari, rapi amat pakaianmu kaya orang mau kondangan.” Jawab ibu Tika. “Hehe.. iya tante, Tika nya ada?” Jawab Agus sambil tersenyum malu. Dengan mengenakan pakaian daster warna pink tiba-tiba Tika menerobos keluar. “Amboi.... baru kali ini aku melihatmu pakai baju feminim.” Ucap Agus sambil menahan tawa. “Biarin, kann nggak ada yang liat.” Sahutnya ketus. “Eh ngomong-ngomong kamu mau kemana, rapi amat. Apa yang kamu bawa itu?” tambahnya.
Suasana hening sejenak, mungkin Agus bingung untuk memulai pembicaraannya. “Tik, aku mau ngungkapin perasaanku.”
“Perasaan apa? Emang ada yang kamu umpetin ?” jawab Tika membuat lelucon.
“Aku serius Tik, sudah lama aku memendam perasaan ini, dan mungkin malam ini adalah malam yang pas untuk ku ungkapkan.”
Tercenganglah wajah Tika, pikirannya melayang kemana-mana. Sipu malu yang nampak pada wajahnya. Ia pun berpikir dan berbisik dalam hati, “Kalau seperti ini? Dia juga mencintaikku? Oh tuhan, inikah jawaban atas do’a ku selama ini?”
Suasana menjadi hening, Tika tak mampu lagi berkata. Agus mencium setangkai mawar merah yang ia genggam dari tadi. “Bunga ini untuk orang yang aku cinta, dan malam ini akan menjadi saksi cintaku padanya.”
Tika mengerutkan dahinya, “Padanya? Siapa yang dari tadi kamu maksud ?”
“Caca.” Jawab Agus dengan tegas.
Rontoklah sudah semua angannya, hampir saja pipinya terbasahi oleh laut yang hampir tsunami itu. Namun ia menahan jangan sampai Agus tahu kalau dia menangis.
“Aku selalu mendukung mu kawan, kalau memang kamu sayang pada Caca yang juga sahabat baikku itu, maka ungkapkanlah perasaanmu itu. Aku do’akan yang terbaik untuk kalian.” Ucap Tika sembari menggenggam erat tangan Agus.
“Terima kasih ya Tika, tujuanku mampir sini tadi Cuma mau minta do’a darimu.”
Bergegaslah ia menuju tempat yang telah ia persiapkan dari tadi. Banjirlah wajah imut Tika dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan. Belum sampai pikirnya, ternyata sakit hati itu tak seindah jatuh cinta.
Esoknya dia berangkat bersama Eka, tidak seperti biasa. “Tumben nggak berangkat bareng Agus.” Tanya Eka setengah mengejek. Tak satu katapun yang keluar dari mulut Tika. Sesampainya disekokah Tika langsung menuju kelas, dan Eka masih nongkrong di taman sekolah, dengan tatapan penasaran, nampaklah dari kejauhan dua orang berjalan beriringan. Eka langsung menghampiri Tika, “Sudahlah Tik, ingatlah kebersamaan kalian dulu, mungkin dengan begini bisa ditarik kesimpulan bahwa sahabat itu hanya untuk sahabat, bukan yang lain.” Ucap Eka sambil mengusap kepala Tika. “Mungkin kamu benar sobat, aku memang tidak bisa mendapatkan cintanya, tapi aku tetap akan mencintainya, dan aku akan tetap menjadi sahabat yang ia inginkan.” Ucap Tika sambil mengusap air matanya.
Caca yang merupakan sahabatnya dalam organisasi, akhir-akhir ini sering curhat tentang Agus. Dan Agus juga sering menceritakan hubungannya denga Caca kepada Tika. Bagaimana dengan perasaannya sendiri?
“Ting (sebutan akrab Tika dalam lingkup organisasi), apa aku benar-benar kejam ya?” tanya Caca
“Kejam? Emang kamu ngapain sih?”
“Aku tau kalu sebenernya kamu itu suka sama Agus.”
“Kamu itu ngomong apa Ca, aku ini sahabatnya lagian Agus juga udah jadi pacar kamu kan.”
“Aku ini sahabatmu dari kecil Tik, jadi aku tau betul tentang kamu dan sifat-sifatmu, lagian kamu dulu juga pernah bilang ke aku.”
“Udahlah Ca kamu ini ngomong apaan sih, mending kita kerjain dulu ni proposalnya.”
Lima bulan berlalu, namun rasa dan kebiasaan Tika sama sekali tidak ada perubahan. Kabar baik, Agus kini tak lagi dengan Caca, penantian yang tidak sia-sia untuk Tika. Seharusnya dia mempergunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Agus. Namun tak sesuai dugaan. Tika lebih memilih untuk menunggu beberapa tahun lagi, dan sekarang ia memilih untuk menjalani seperti biasanya. Namun bukan berarti Tika melupakan cinta pertamanya itu.
“Kring-kring-kring.... Tika, berangkat yuk !” Teriak Agus. “Iya, bentar. Tika berangkat dulu ya bu, assalamualaikum”,  berlari tergopoh-gopoh.
“Waalaikumsalam, hati-hati nak.” sembari melambaikan tangan.
Seperti biasa, dikayuhlah sepeda oleh Agus dengan penuh semangat. Dan begitupun seterusnya hingga detik-detik wisuda. Nilai UN Tika cukup bagus, dia menjadi peringkat 3 tingkat sekolahnya. Tapi tetap peringkat satu tingkat kelas.
Hubungan mereka terpisahkan oleh jarak, Agus memilih bersekolah ke luar kota. Namun rasa sayang Tika tetap saja seperti dulu.
“Hati-hati ya sobat, walaupun jarak kita jauh, namun bukan alasan kita untuk lost contact satu sama lain, bukan?” Ucap Tika sambil memeluk Agus.
“Jaga diri baik-baik, sekolah yang bener, jangan lupakan aku sahabatku.”
Tak pernah walau sekejap Tika melupakan hari-harinya bersama Agus, ia selalu menanti waktu untuk pengungkapan rasa sayang Agus kepadanya. Namun mimpi. Penantian sedari kelas 4 SD itu berbalas semu. Tak pernah ia berniat untuk mengungkapkan.
“Tuhan... inikah jawaban yang selama ini kau sembunyikan dariku. Dan kini baru aku sadari, penantian, kesabaran, persahabatan. Benar kata Eka dulu bahwa sahabat itu hanya untuk sahabat, bukan yang lain.”

Selasa, 25 Februari 2014

Puisi Perjuangan



SETAN MUDA
KARYA TANGAN CHRISMON DWI INDAH KARTIKASARI

SANG SURYA ENGGAN MENYAPA
AURA – AURA KEGELAPAN MULAI TERASA
RINTIK HUJAN TAK LAGI MENARI
MENAMPAKKAN SUATU PERTANDA
                                                  
KINI BURUNG ENGGAN BERKATA
KARNA SEBUAH TINGKAH
HANYA SATU TINGKAH
MENGGOYAHKAN KEHIDUPAN

GERAKANNYA MENGGELEGAR MEMBELAH LANGIT
MERETAKKAN PUTRA PERTIWI
MENGHAPUSKAN CINTA PERTIWI
MELUNTURKAN BUDAYA JAWI

ALAM PUN ENGGAN SENYUM
TAK ADA LAGI YANG MAU MENCIUM
MENCIUM KEADAAN
WAHAI BUMIKU SAYANG

KARYA BANGSA MACAM APA
TAK SADAR MEREKA MERUSAKNYA
ATAU MUNGKIN
SEBUAH KE-PURA-PURA AN ??

MUNGKIN ALAM MULAI ENGGAN
ATAU TUHAN MULAI BOSAN
MELIHAT TINGKAHMU HEY KAWAN
YANG TAK BISA MENJAGA ALAM

SETAN – SETAN TERTAWA TERBAHAK”
MELIHAT KEHANCURAN MANUSIA
MERASA BESAR KEPALA
MENGANGGAP SEMUA DIBAWAHNYA

TANGISKU TAK BISA MERUBAH SEGALANYA
HANYA SATU CARA
BERKARYA LAH WAHAI ANAK BANGSA
RUBAHLAH SEMUA SIKAP HINA

INGATLAH ASAL MULA PERJUANGAN
MEREKA BERKORBAN MATI-MATIAN
KINI HIDUP TINGGAL KEMULIAAN
TETAP TERUSKAN PARA PEJUANG

MUNGKIN TUHAN AKAN MEMAAFKAN
MUNGKIN TUHAN AKAN MENGEMBALIKAN
SEMUA MILIK ALAM
YANG PERNAH KAU SIA-SIA KAN